Desember ‘Kan Berakhir
Ibadah December 26th, 2008
Dipenghujung tahun hijriyah 1429 dan dipenghujung tahun masehi 2008 ini yang berarti sebentar lagi kita akan memasuki awal tahun hijriyah 1430 dan awal tahun masehi 2009.
Tahun baru memang sebuah peristiwa rutin. Namun saat senja terakhir di tanggal 31 Desember dan malam mulai turun,biasanya orang bersiap dengan terompet, kembang api, petasan, dan banyak juga yang berkeliling kesana kemari. Tidak sedikit juga sebuah acara digelar baik dipanggung terbuka, hotel, gedung, dan lain sebagainya. Itu semua boleh dikatakan sebagai satu laku kegembiraan merayakan datangnya tahun baru. Itulah sebuah ritual global yang dimiliki manusia di seluruh dunia.
Tahun baru, biasanya kita akan menemui suatu pemaknaan yang bias jadi rutin yang biasa kita dengar. Tahun baru adalah tanda bagi penghidupan yang baru. Catatan baru siap dibuka menggantikan catatan lama. Karenanya rasa optimis pun hadir. Ditahun depan diharapkan semua hal akan menjadi baik dan kesengsaraan yang dirasakan di tahun yang lewat akan berganti kemenangan.
“Allah menjadikan malam dan siang silih berganti untuk memberi waktu (kesempata) kepada orang yang ingin mengingat (mengambil pelajaran) atau orang yang ingin bersyukur” (QS. Al-Furqan: 62).
Dalam Islam, tahun baru secara sederhana terlingkup dalam pasal pembahasan waktu. Kegembiraan dan tiupan terompet itu dapat terjadi karena waktu telah diciptakan Allah. Makhluk Allah yang tak terlihat itu berjalan tanpa bisa kita cegah. Itulah waktu yang dijelaskan Allah pada ayat ini sebagai kesempatan bagi manusia. Yakni kesempatan untuk berzikir dan bersyukur.
Menurut tafsir Al-Misbah yang dijelaskan oleh Quraish Shihab, menurutnya silih bergantinya malam adalah karunia Allah. Malam yang berganti siang bertujuan untuk berganti peran dan memainkan sebagian peran yang satu atas yang lain. Ini adalah nikmat yang besar karena malam yang gelap menjadi pakaian yang menutupi diri manusia dan menjadikan tidur sebagai pemutus atau jeda dari segala kegiatan hingga manusia dapat berehat memulihkan tenaga. Sementara siang adalah waktu manusia untuk bertebaran di muka bumi, berkarya, beramal, dan mencari rizki. Dan itu semua merupakan satu pertanda bagi keesaan Allah yang mengatur keselarasannya.
Pergantian bulan, juga peredaran matahari adalah kesempatan bagi kita. Waktu yang berjalan juga adalah cermin hidup manusia. Manusia menempuh perjalanan, sebuah sirat untuk sampai pada cahaya Allah. Karnanyalah kita diwajibkan memohon agar selalu berada di jalan lurus dalam perjalanan itu.
“Tunjukilah kami (ya Allah) jalan yang lurus yakni jalan yang Kau limpahi nikmat di dalamnya, bukan yang Kau murkai” (QS.Al-Fatihah: 6-7).
Jika kita akan mengakhiri hitungan sebuah tahun, apapun dan dari manapun hitungan itu dilakukan, maka satu hal yang paling bijaksana kita renungkan adalah soal sudah berapa umur kita sekarang, dan tinggal berapa sisa umur kita.
“Sesungguhnya kamu akan mati dan mereka akan mati” (QS. Az-Zumar: 30)
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan” (QS. Al-Ankabuut: 57)
Bukankah kita, mungkin saat ini ada yang merasakan bahwa dalam pergantian tahun lalu atau beberapa tahun kebelakang masih ada orang-orang yang kita cintai masih ada disamping kita, mungkinkah itu orang tua, istri, anak, sauadara, paman, kakek, nenek, teman, sahabat, atau mungkin juga kekasih. Mereka saat ini telah tiada dan tidak lagi merasakan meriahnya pesta tahun baru. Mungkin juga hal ini dan itu pasti akan menimpa pada diri kita.
Manusia akan sampai pada akhir hidupnya di alam dunia dalam kepastian yang sangat mutlak. Sedemikian mutlak hingga makhluk paling agung sejagad ini, Nabi Muhammad saw. Juga telah merasakannya. Setiap orang yang baik umumnya diperlihatkan Allah berada dalam akhir yang baik pula (khusnul Khatimah). Merekalah orang-orang yang telah menyerap syahadat dalam kesehariannya melalui amal perbuatan. Syahadat itulah yang kemudian memercik dari mulutnya secara natural saat malaikat maut menyabanginya.
Sedangkan bagi yang disibukan dengan maksiat akan berada pada akhir yang buruk (su’ul khatimah). Merekalah yang anggota tubuhnya tidak mengenal syahadat karena amal yang dikerjakan tak pernah bersesuaian dengan kesaksian kebertuhanan dan kepatuhan itu. Mereka kalut dan kehilangan arah pulang. Yaitu arah pulang menuju “akhir yang lebih baik” dimana kasih dan sayang Allah SWT. Berlimpah dicurahkan dalam keabadian.
“Sesungguhnya akhir itu lebih baik bagimu dari permulaan” (QS. Ad-Dhuha: 4).
Kita yang masih diberikan kesempatan oleh Allah untuk mencapai akhir hidup yang lebih baik. Marilah kita gunakan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya. Karena boleh jadi, kita tidak akan pernah tahu kapan dan dimana kita akan menyusul orang-orang yang kita cintai tadi untuk menghadap Allah SWT. Mungkinkah masih dalam tahun ini atau pada tahun yang akan datang, itu semua akan pasti dan mutlak terjadi pada diri kita semua.
Waallahu a’lammu bishshawab.
*disaring dari beberapa tulisan
About



setuju mas,
manfaatkan semua kesempatan dengan sebaik mungkin..
selama kita masih bernafas, jangang pernah lupa untuk menebarkan kebaikan
Ayo selagi ada kesempatan jangan sia siakan jadikan hidup kita lebih berarti karena kesempatan datang hanya sekali